Daulat Umat (DU) luncurkan program sosial kemanusiaan bertajuk “Carenaval” perdana yang berlokasi di Kampung Susun Kunir, Jakarta Barat, pada Sabtu, 22/8/2026). Berkolaborasi dengan sejumlah organisasi masyarakat sipil, aksi sosial ini memadukan penyaluran aqiqah dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para tunawisma.

Program ini muncul dari sebuah keresahan kolektif melihat lembaga filantropi hanya berhenti pada upaya karitatif atau seremonial belaka seperti membagi-bagikan makanan, sembako, santunan dan lain semacamnya.
“Kita harus mengakui dosa bahwa lembaga filantropi seringkali hanya membikin kegiatan karitatif dengan menjadikan warga sebagai sasaran penerima bantuan saja. Daulat Umat hendak melampaui itu, agenda-agenda karitatif akan kami arahkan ke orientasi yang lebih politis seperti membantu pengorganisiran masyarakat miskin kota dan tunawisma sebagaimana dilakukan UPC,” ungkap Muhammad Azka Fahriza, direktur Daulat Umat.


Mayoritas warga yang datang adalah para tunawisma, kelompok yang terpinggirkan di bawah gemerlap gedung-gedung tinggi di Jakarta. Mereka biasanya tinggal di pojok-pojok kota tanpa dinding dan atap sebagai tempat berlindung dan beristirahat. Sebagian dari mereka tidak punya identitas kewarganegaraan karena saking lamanya tercerabut dari tempat asalnya.


Rangkaian acara dimulai sejak pukul 09.00 WIB didahului pemeriksaan fisik berupa screening kesehatan umum gratis yang ditangani oleh kawan-kawan nakes dari Serikat Buruh Independen-Rumah Sakit Premier (SBI-RSP) dan Medis Rakjat.



Di saat bersamaan, para tunawisma yang hadir diajak berdiskusi santai untuk membuka ruang membuka obrolan informal yang tujuannya adalah untuk menjaring dan memetakan masalah reproduksi sosial yang dihadapi para tunawisma sehari-hari.
Odent Muhammad, anggota UPC, menekankan di hadapan para tunawisma agar saling bantu dan saling jaga untuk menumbuhkan rasa solidaritas sepenanggungan di tengah kehidupan jalanan Ibu Kota yang keras.

“Kalau ada kawannya ketangkep, jangan canggung-canggung langsung samperin. Dampingi dia, ajak kawan yang lain, dan panggil saya. Nanti kita ke sana bareng-bareng,” ungkapnya.


Selain layanan medis dasar, para peserta juga mendapatkan pembekalan praktis. Kawan-kawan dari SBI-RSP memberikan edukasi kesehatan serta pengenalan bantuan hidup dasar atau Basic Life Support (BLS). Sementara itu, pihak UPC dan JRMK memberikan pemaparan krusial mengenai hak atas kewarganegaraan, mengingat hambatan administratif identitas sipil yang masih sering membayangi komunitas tunawisma di Jakarta seperti untuk mengakses layanan kesehatan.

Program ini sengaja dirancang agar tidak sekadar menjadi kegiatan karitatif instan atau seremonial belaka. Melalui Carenaval, pihak penyelenggara mengedepankan ruang dialog sosial guna memahami dinamika riil kehidupan para tunawisma sebelum melangkah ke tahap pemberdayaan berikutnya secara partisipatif.




